IPNU IPPNU Kota Kediri

kumpulan para pelajar yang notaben nya adalah Aswaja ala Nahdlatul Ulama

Saturday, May 14, 2016

NASKAH PELANTIKAN PC IPNU IPPNU KOTA KEDIRI



 Bismillahirrahmanirrahim
Asyhadu an laa ilaaha illallah
Wa asyhadu anna muhammadan rasulullah
Radlitu billahi robba
Wa bil islami diina
Wa bi muhammadin nabiyyan wa rasula

Kami sebagai Pengurus Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi IPNU STAIN Kediri Masa Khidmat 2015-2016 dengan sadar dan penuh tanggung jawab, dengan ini menyatakan:
Ø Kami siap menjunjung tinggi martabat dan nama baik agama Islam serta berusaha mewujudkan terlaksananya ajaran Islam yang berhaluan Ahlusunnah wal Jama’ah di tengah-tengah masyarakat
Ø Kami siap mempertahankan dan mengamalkan Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945
Ø Kami siap menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridloi Alloh SWT.
Ø Kami akan melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai pengurus untuk kepentingan organisasi dan masyarakat secara keseluruhan
Ø Kami akan taat dan patuh kepada Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama.
Laa haula walaa quwwata illa billahi al ‘aliyyi al ‘adzim
 

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Alloh SWT., maka pada hari Minggu, 20 Rajab 1436 H./09 Mei 2015 M., selaku PC IPNU KOTA KEDIRI dengan resmi melantik rekan-rekan dalam jabatan sebagai Pengurus Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi IPNU STAIN Kediri Masa Khidmat 2015-2016. Dan Kami percaya dan yakin bahwa rekan-rekan akan melaksanakan amanah ini dengan maksimal. Semoga aktivitas kita semua diridloi oleh Alloh SWT. Amin

Wednesday, April 6, 2016

Rindu Kami ya Rosul

Setelah dari pagi sampai sore hari para panitia dan peserta lomba Festival Pelajar 2016 disibukkan dengan lomba-lomba di bidangnya masing-masing, malamnya gantian para tetua yang tak mau kalah sama yang muda. Beliau-beliau tampil mengumandangkan syair-syair serta pujian kepada sang Baginda Rosulullah SAW, memberikan suasana yang "adem tur tentrem", karena dibarengi sama hujan,,, hehehe,,, ^_^

Agus Abu Bakar Abdul Jalil - Ketua terpilih Tanfid PCNU Kota Kediri - meskipun belum dilantik, beliau sudah menunjukkan semangatnya dalam mendukung kegiatan Rekan Rekanita PC IPNU IPPNU Kota Kediri dengan memberikan maidhoh hasanah di sesi Gema Sholawat bersama tim AS ROMA binaan Ustad Isnaini. Beliau juga ingin mensinergitaskan agenda PC IPNU IPPNU Kota Kediri dengan agenda PCNU Kota Kediri kedepannya, harapan beliau.


Juga hadir Agus Muttaqin untuk memberikan semangat kepada para peserta dan juga tentunya kepada rekan rekanita panitia. Beliau hadir membawa bala tentaranya dalam bersiar - maksudnya para santrinya. Hehehe,,, ^_^

Dengan harapan yang besar, agenda ini selalu dapat menjadi agenda rutin rekan rekanita sebagai wujud bahwa IPNU IPPNU mampu masuk dan diterima di semua kalangan. So, perlu ditingkatkan lagi supaya lebih maksimal. thx

Seminar Pendidikan Aplikatif Bareng IPNU IPPNU

 
Kediri, 3/4 (repost) - Media memang menjadi momok bagi seluruh kalangan untuk jaman sekarang, apalagi pelajar. Benteng khusus untuk menjadikan ideologi menjadi hal yang patut untuk diperhatikan lebih fokus dibanding dengan hal lain karena inilah pondasi awal sebuah pemikiran terbentuk. Bareng pengurus Aswaja Kab. Kediri Bapak David dan Pakar Pendidikan dari STAIN Kediri Pak Abd. Rahman peserta Festival Pelajar 6261 PC IPNU IPPNU Kota Kediri belajar bersama tetang ASWAJA dan bagaimana menjadikan diri sebagai garda terdepan kader ASWAJA An-Nahdlyah.

Mengulas asyiknya propaganda tentang Nabi palsu, gafatar dan aliran-aliran baru yang katanya salafi menjadi pokok bahasan siang itu, kami berbagi informasi untuk saling tahu tentang ASWAJA An-Nahdliyah. Dimulai dari pembahasan tentang Wahabi yang benar-benar sebagai aliran yang perlu diketahui ciri-cirinya bagi pelajar yakni kurang menghormati orang lain, merasa paling benar dan kurang bisa menghargai perbedaan dengan mengkafirkan sesama saudar muslim.


Duuh.. yang bahasan ini bikin kami melongo, karena memang tak disangka ternyata sekarang banyak sekali yang praktek ilmunya Wahabi di Indonesia. Munculnya orang-orang yang berkelakuan mirip orang-orang Syi'ah dan Khawarij kayak zaman Sahabat dulu. Miriss.... Nah.. panjang lebar bahasan tentang ini tak lupa dilanjut dengan aplikasi sikap bagi pelajar tentang ini nih. Yaakkkk... pertanyaan pertama yang hadir adalah bagaimana cara menyikapi hal tersebut??

Jawaban singkat dan berbobot dari pemateri handal kita siang kemarin yang intinya :
1. Banyak Membaca
2. Cari guru untuk mengesahkan bacaan-bacaan kita (mondok atau ngaji)
3. Jangan malu untuk bertanya kepada yang mampu (kyai minimal ustadz ya)
4. Ikut organisasi yang sudah jelas dengan lebel Nadlatul Ulama Cukup itu aja sih..



Bagi yang penasaran gimana-gimana nya ikut aja langsung kajian rutin kita setiap Ahad Legijam 8.30-12.00 di Kantor PCNU Kota  Kediri

   

Asyiknya, maen bareng di Kemah Pelajar

 
     Kediri, 3/4 (repost) - Matahari beranjak berada di atas putihnya awan pagi ini, memberikan senyuman hangat mentari yang tak pernah lelah menyapa embun pagi. Lapangan Gelanggang Olah Raga (GOR) Jayabaya Kota Kediri memberikan angin segar dengan tawa canda peserta di balik kemah kecil yang siap menantang matahari siang itu.

     Puluhan siswa dari beberap Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat berada di lingkaran acara kemah pelajar dengan gelak tawa memacah kantuk pagi itu. Teman-teman pramuka yang bangunnya mendahului matahari bergegas untuk membersihkan dirinya lebih segar setelah terlelap kemarin malam di dalam nyamannya tenda.
Berbagi tawa untuk yang sudah ataupun belum mandi dengan senam ala-ala kadarnya dari instruktur yang mirip petinju nasional Indonesia, rekan Athok,hehe.
Dari gerakan ke gerakan kami di ajak untuk merasakan seluruh sendi tubuh agar lebih lama tidak sakit "encok" katanya sambil berlaga di atas tikar rumput milik Sang Pemunya segalanya :)

     Ekspedisi berlanjut dengan lari bersama sepanjang mata memandang dari lapangan menuju bundaran GOR Jayabaya sambil menikmati penjual kaki lima yang menggelar barang dagangannya di altar jalan sepanjang GOR pagi itu. Karena bersama, jadi capeknya nggak keingitan sodara-sodara, tapi keringatnya sampe kemana-mana,hehe...

     Lanjut nih, sama agenda yang paling ditunggu dari kemarin sebelum hari H, yaitu game bareng untuk adu poin. Permainan demi permainan mulai di laksanakan, mulai dari main air sampe main udara,hehe..

     Matahari beranjak ke ujung bumi dan kami sudah merasa mirip orang negro yang katanya hitam, tapi tetep manis untuk standart orang Indonesia. Belajar sambil bermain kami harapkan kepada seluruh peserta. End.. tunggu agenda selanjutnya untuk ngetrip dan kemah bareng lagi yang udah ikut atau buat kamu yang belum ikut, mau tau info terbaru acara kita? ikutin aja terus update an nya :)

Monday, April 4, 2016

HARLAH 2016

Ada yang baru nich dari IPNU IPPNU Kota Kediri. Apa itu??? Festival Pelajar 2016 dalam rangka memperingati Harlah IPNU ke-62 dan IPPNU ke-61 yang diselenggarakan di GOR Joyoboyo Kelurahan Banjarmelati Kecamatan Mojoroto Kota Kediri.

Acara diselenggarakan pada tanggal 2-3 April 2016 dan diikuti oleh Pondok Pesantren (PonPes) se-Kota Kabupaten Kediri dan SMA sederajat se-Kota Kabupaten Kediri dengan mengangkat tema "Sinergitas Pemuda Membangun Persatuan Bangsa".

Festival Pelajar kali ini terdiri dari beberapa lomba, yaitu: Lomba Lalaran Alfiyah Ibnu Malik dan Lomba Perang Mading dengan peserta dari PonPes; Lomba Mabit SKI dan Kemah Sangga dengan peserta dari SMA sederajat. Dan sebagai penutupnya, Seminar Pendidikan dengan mengangkat tema bahasan tentang radikalisme yang disampaikan oleh dua pemateri yaitu Pak David dan Pak Efendi.

Ide mengadakan acara Festival Pelajar ini terlintas saat agenda rutin di kantor PCNU Kota Kediri (setiap hari kamis malam jum'at). Dari situlah kami mulai merancang kepanitiaan dan isi dari pada Festival Pelajar. Dan tertunjuklah Anang Daru Naja (panggil saja kang Anang) sebagai ketua panitia.

Kang Anang ini sebagai koordinator departemen kaderisasi PC IPNU Kota Kediri yang mengkonsep semua teknis tentang kaderisasi IPNU di Kota Kediri. Pak ketua panitia ini didampingi oleh koordinator departemen kaderisasi PC IPPNU Kota Kediri, Laylatul Imana Nadhiroh (sebut saja rekanita Ella) yang di kepanitiaan ini menjabat sebagai sekretaris panitia.

Susunan Kepanitiaan
Pelindung : PCNU Kota Kediri dan PC Muslimat NU Kota Kediri
Penanggung Jawab : PC IPNU Kota Kediri dan PC IPPNU Kota Kediri
OC
Ketua : Anang Daru Naja
Sekretaris : Laylatul Imana Nadhiroh
Bendahara : Ayang Qurota A'yun
Sie Acara : Anas, Hesty, Frenky, Atok
Sie Humas dan Perijinan : Munir
Sie Perlengkapan : Agus, Arif, Andim, Ulum
Sie Kesekretariatan : Hisbullah, Chus
Sie Dekdok : Fahmi, Nia
Sie Konsumsi : Zulfa
dan dibantu oleh anggota PAC Mojoroto, PAC Kota, PAC Pesantren, PR Sumberjo, PK MA HM Al Mahrusiyah Lirboyo, PKPT STAIN Kediri, PKPT UNP Kediri, DKC CBP-KPP Kota Kediri, Crew FilaMedia Video Shooting, Grup Al Banjari Fauzan Adzima, dan grup sholawat AS ROMA binaan pak Isnaini.

Turut mendukung:
PCNU Kota Kediri, PC Muslimat NU Kota Kediri, Majelis Alumni IPNU-IPPNU Kota Kediri, Pemkot Kota Kediri, Perusahaan Daerah Pasar Kota Kediri, Disbudparpora Kota Kediri, Dinas Pendidikan Kota Kediri, Kemenag Kota Kediri, Kwarcab Pramuka Kota Kediri, dan juga PT. GUDANG GARAM, tbk.

Thursday, March 31, 2016

Tentang IPNU IPPNU



Pendahuluan

IPNU-IPPNU sebagai badan otonom Nahdlatul Ulama yang merupakan wadah kaderisasi pelajar NU sekaligus menjadi ujung tombak bagi perjuangan NU (dulu, sekarang dan pada masa akan datang). IPNU-IPPNU dituntut untuk senatiasa meningkatkan dan mengembangkan peran dan fungsinya sebagai pelaksana kebijakan dan program NU, yang berkaitan dengan kelompok masyarakat, pelajar, santri, mahasiswa sebagai basis keanggotaan IPNU-IPPNU.

Realitas perjalanan IPNU-IPPNU sejak kelahirannya sangat dipengaruhi oleh kondisi dan situasi bangsa dalam aspek kehidupan, maka untuk rekan dan rekanita sebagai kader mudanya NU dan generasi bangsa/negara dan agama harus sesadar-sadarnya akan tugas dan tanggung jawab bersama.

Latar Belakang Berdirinya IPNU-IPPNU

ü Faktor Ideologis, mayoritas penduduk Indonesia beragama islam yang berhaluan ahlussunnah wal jama’ah, maka perlu pelestarian dan pengamalan yang mutlak

ü Faktor Pedagogis, banyaknya organ organisasi yang bermunculan di daerah yang pada hakikatnya mempunyai visi, misi, program serta orientasinya yang sama dilingkungan Nahdlatul Ulama, sehingga perlu dipersatukan.

ü Faktor Sosiologis, karena adanya tujuan serta rasa kesadaran dan keihlasan akan pentingya suatu wadah pembinaan bagi generasi penerus untuk memperjuangkan cita-cita ulama dan bangsa Indonesia.

ü Faktor Politis, yaitu Nahdlatul Ulama sebagai partai politik, sehingga untuk memenangkan PEMILU pada tahun 1955 maka perlu wadah disemua tingkatan.

Upaya untuk membentuk wadah organisasi pelajar dikalangan NU jauh hari sebenarnya sudah lama ada. Tercatat dalam sejarah perjalanan IPNU-IPPNU, pada tahun 1936 di Jombang Jawa Timur telah berdiri sebuah organisasi yang menghimpun santri-santri Pondok Pesantren. Organisasi itu kemudin dikenal dengan nama Persatuan Santri Nahdlatul Oelama (PSNO). Berdirinya PSNO walaupun hanya terbatas di kalangan pelajar pondok pesantren di Jatim saja, di Surabaya telah berdiri organ pelajar Tsamrotul Mustafidin pada 11 Oktober 1936; Persatoean Santri NO ( Persano ) pada 1939; di Malang berdiri Persatoean Moerid NO ( PAMNO ) pada 1941; di Madura berdiri Ijtimauth Tholabiyyah pada 1945; di Sumbawa berdiri Ijtimauth Tholabah NO pada 1946; di Kediri berdiri Persatuan Pelajar NO ( Perpeno ) pada 1954; di Medan berdiri Ikatan Pelajar NO ( IPENO ) pada 1945; Ikatan Moerid Nahdlatul Oelama (IMNO) pada tahun 1945; Subbanul Muslimin yang berdiri di Madura, serta masih banyak lagi

Hanya saja organ – organ tersebut belum terkonsolidir secara nasional, sehingga corak dan watak gerakannya masih bersifat local. Yang menyatukan meraka adalah imajinasi kolektif yang dibentuk dari tradisi keagamaan Sunni yang sama. Pada titik inilah muncul kepeloporan gerakan yang hendak membangun jembatan pergerakan antar organ tersebut. maka 4 (empat) orang tokoh pelajar NU rekan A Mustahal Ahmad ( Solo ), Abdul Ghony Farida ( Semarang ), dan rekan M. Shufyan Cholil mahasiswa UGM ) serta A Chalid Mawardi  (Solo) , dan dalam Konferensi Besar I Lembaga Pendidikan maarif NU mereka minta untuk diberi kesempatan berbicara
dalam persidangan tersebut. dan juru bicara dari para pelajar tersebut adalah rekan Chalid Mawardi (Bp. Drs H. Mustahal Ahmad pernah mengatakan sebenarnya beliau yang akan berbicara karena secara usia beliau lebih tua dari Bp. A Khalid Mawardi, tetapi karena vokal Bp. Chalid Mawardi lebih baik maka beliau diberi kesempatan berbicara terlebih dahulu - Pen) setelah juru bicara itu secara panjang lebar menguraikan betapa pentingnya ada satu wadah dikalangan pelajar-pelajar NU yang wadah ini bertujuan antara lain:

1. Untuk melanjutkan azaz NU yakni Ahlus Sunnah Waljamaah.
2. Sebagai konsekensi terhadap Partai NU yang secara terang dan tegas menyatakan keluar dari Masyumi dan menjadi partai yang berdiri sendiri.
3. Adanya kenyataan bahwa PII (Pelajar Islam Indonesia) belum dapat menampung pelajar-pelajar umum dan pelajar pesantren.

Akhirnya setelah mendengar dari kedua tokoh pelajar tersebut, maka Konbes I LP maarif NU dengan suara bulat dalam persidangannya pada hari Rabu tanggal 24 Februari 1954 menerima dengan bulat lahirnya organisasi Pelajar NU ini (yang kemudian dikenal dengan nama IPNU) Setelah resmi berdiri, IPNU melakukan kosolidasi melalui konferensi Segi Lima yang diselenggarakan di Solo pada 30 April – 1 Mei 1954 dengan melibatkan perwakilan dari Yogyakarta, Semarang, Solo, Jombang dan Kediri. Konferensi ini berhasil merumuskan asas organisasi, yaitu Ahlussunnah Wal Jama’ah; tujuan organisasi, yakni mengembangkan risalah Islamiyah; mendorong kualitas pendidikan; dan mengkonsolidir pelajar. Konferensi ini menetapkan M. Tholchah Mansoer sebagai Ketua Umum pertama. Hasil konsolidasi ini lalu dibawah dalam muktamar NU ke – 20 di Surabaya, ( 9 – 14 September 1954 ). Dan dalam muktamar itulah IPNU disahkan oleh PBNU sebagi satu – satunya organisasi pelajar putra dalam naungan Nahdlatul Ulama.

Sekitar akhir tahun 1954, di kediaman Nyai Masyhud yang terletak di bilangan Keprabon, Surakarta, beberapa remaja putri yang kala itu sedang menuntut ilmu di Sekolah Guru Agama (SGA) Surakarta, mencoba merespon keputusan Muktamar NU ke-20 di Surabaya tentang perlunya organisasi pelajar di kalangan nahdliyyat.(8) Diskusi-diskusi ringan dilakukan oleh Umroh Machfudzoh, Atikah Murtadlo, Lathifah Hasyim, Romlah, dan Basyiroh Saimuri. Dengan panduan ketua Fatayat cabang Surakarta, Nihayah, mereka berbicara tentang absennya pelajar putri dalam tubuh organisasi NU. Lebih-lebih setelah kelahiran Muslimat NU (29 Maret 1946) yang beranggotakan wanita-wanita paruh baya, dan Fatayat NU (24 April 1950) yang anggota-anggotanya banyak didominasi oleh ibu-ibu muda.(9) Pembicaraan itu kemudian berkembang dengan argumentasi Nihayah tentang pentingnya didirikan satu wadah khusus bagi para pelajar putri NU. Apalagi keputusan muktamar ke-20 NU tahun 1954 menyatakan, bahwa IPNU adalah satu-satunya organisasi pelajar yang secara resmi bernaung di bawah NU dan hanya untuk laki-laki, sedangkan pelajar putri sebaiknya diwadahi secara terpisah. Nihayah juga berdalih bahwa banyak pelajar-pelajar putri dari kalangan NU yang dimanfaatkan oleh ormas-ormas yang kebanyakan berafiliasi kepada partai politik tertentu di luar NU.
Obrolan ringan yang biasanya dilakukan seputar waktu senggang setelah sekolah itu akhirnya berkembang menjadi sebuah gagasan kemungkinan pengiriman pelajar putri NU mendampingi pelajar-pelajar putra yang memang pada awal tahun 1955 sedang mempersiapkan muktamar I IPNU yang akan diadakan di Malang, Jawa Timur.
Gagasan ini menjadi semakin matang dengan diusulkannya pembentukan sebuah tim kecil oleh Ahmad Mustahal -ketua NU cabang Surakarta yang juga secara rajin memantau perkembangan gagasan nahdliyyat muda tersebut- untuk membuat draf resolusi pendirian IPNU-Putri. Tim yang diketuai Nihayah dan sekretaris Atikah Murtadlo ini menyusun draf resolusi di kediaman Haji Alwi di daerah Sememen, Kauman, Surakarta dan memutuskan untuk memberitahukan adanya rencana resolusi tersebut kepada PP IPNU yang berkedudukan di Yogyakarta. Tim juga menetapkan dua orang anggotanya yaitu Umroh Machfudzoh dan Lathifah Hasyim sebagai utusan untuk menemui PP IPNU di Yogyakarta. Selanjutnya utusan tersebut berangkat ke Yogyakarta dan diterima langsung oleh Ketua Umum PP IPNU, M. Tolchah Mansoer. Dalam pertemuannya, Umroh menyampaikan permintaan tim resolusi IPNU-Putri agar PP IPNU dapat menyertakan cabang-cabang yang memiliki pelajar-pelajar putri untuk menjadi peserta/wakil putri pada Kongres I IPNU di Malang. Selanjutnya disepakati pula dalam pertemuan tersebut bahwa peserta putri yang akan hadir di Malang nantinya dinamakan IPNU-Putri.
Konperensi Panca Daerah
Sesuai dengan permintaan dihadirkannya utusan IPNU-Putri sebelumnya, selain dihadiri oleh peserta putra dari cabang-cabang IPNU seluruh Indonesia, pembukaan Muktamar I IPNU di pendopo kabupaten Malang dihadiri pula oleh peserta putri yang ternyata hanya berasal dari lima cabang (berikut nama-nama utusannya) yaitu:

1. Cabang Yogyakarta: Asiah Dawami
2. Cabang Surakarta: Umroh Machfudzoh Wahib, Atikah Murtadlo
3. Cabang Malang: Mahmudah Nahrowi
4. Cabang Lumajang: Zanifah Zarkasyi
5. Cabang Kediri: Maslamah

Setelah selesai acara pembukaan, negosiasi formal dilakukan oleh para peserta putri dengan pengurus teras PP IPNU tentang kelanjutan eksistensi IPNU-Putri yang berdasarkan rencana sebelumnya secara administratif akan hanya menjadi departemen di dalam tubuh organisasi IPNU. Pembicaraan tentang kemungkinan ini berjalan cukup alot karena PP IPNU secara formal tidak pernah merasa mendirikan IPNU-Putri dan berakhir buntu pada keputusan diadakannya pertemuan intern lebih lanjut di antara utusan putri yang hadir mengenai kedudukan IPNU-Putri. Hasil akhir negosiasi dengan pengurus teras PP IPNU telah membentuk semacam kesan di antara para peserta putri bahwa organisasi IPNU kelak hanya akan lebih serius untuk menggarap anggota dari kalangan putra. Terlebih melihat keputusan-keputusan Konperensi Segi Lima IPNU di Surakarta dan hasil Muktamar ke-20 NU di Surabaya yang memang mengukuhkan eksklusivitas IPNU, hanya untuk pelajar putra. Melihat hal tersebut, pada hari ke-2 kongres, para peserta putri yang ternyata hanya dikirimkan oleh lima cabang itu sepakat untuk mengadakan pertemuan terpisah dari arena kongres IPNU.
Kelima cabang tersebut kemudian mengadakan pertemuan di kediaman K.H. Nachrowi Thohir di daerah Jagalan, Malang. Selama pembicaraan pendahuluan, di dalam forum tersebut sempat berkembang usulan agar IPNU-Putri hanya merupakan satu departemen khusus dalam organisasi IPNU. Pemikiran ini hampir merata di antara seluruh utusan putri yang hadir karena alasan-alasan sebagaimana akan dikemukakan nanti. Tetapi setelah mengadakan konsultasi dengan dua orang jajaran pengurus teras badan otonom NU yang diserahi tanggung jawab dalam pembinaan organisasi pelajar yaitu, Ketua PB Ma’arif NU, K.H. M. Syukri Ghazali, dan Ketua PP Muslimat NU, Mahmudah Mawardi, yang juga sesekali hadir dalam pertemuan itu, keinginan agar untuk selanjutnya IPNU-Putri adalah badan yang terpisah dari IPNU semakin menyala. Akhir dari pembicaraan selama beberapa hari itu berhasil menelurkan keputusan-keputusan sebagai berikut:

1. Pertemuan yang berlangsung pada 28 Februari-5 Maret 1955 dan dihadiri oleh utusan dari lima cabang IPNU-Putri itu selanjutnya disebut sebagai “Konperensi Panca Daerah”.
2. Pembentukan organisasi IPNU-Putri yang secara organisatoris dan administratif terpisah dari IPNU.
3. Tanggal 2 Maret 1955 bertepatan dengan 8 Rajab 1374 H, yaitu hari deklarasi resolusi terbentuknya IPNU-Putri ditetapkan sebagai hari lahir IPNU-Putri (kelak menjadi IPPNU).
4. Untuk menjalankan roda organisasi dan upaya pembentukan cabang-cabang selanjutnya ditetapkan susunan pengurus Dewan Harian (DH) IPPNU sebagai berikut:

Ketua : Umroh Machfudzoh Wahib
Sekretaris : Syamsiah Muthoyib

Perjalanan IPNU-IPPNU dari Kongres ke Kongres

j. Kongres IPNU XIV IPPNU XIII tanggal 18-24 Juni 2003 di Surabaya menghasilkan :

1. Perubahan kembali akronim “P” menjadi “Pelajar” sehingga sehingga IPNU singkatan dari Ikatan pelajar nahdlatul Ulama dan IPPNU singkatan dari Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama.
2. Ketua terpilih adalah rekan Mujtahidurridlo (IPNU) dan Rekanita Siti Soraya Devi (IPPNU).
3. Terbentuknya Korp Kepanduan Putri bagi IPPNU


k. Kongres IPNU XV IPPNU XIV tanggal 09-12 Juli 2006 di Jakarta menghasilkan :

1. Mempertegas MoU antara PP. IPNU-IPPNU dengan LP. Ma’arif NU tentang pendirian Pimpinan Komisariat di sekolah-sekolah secara structural.
2. Merubah nama Citra Diri IPNU menjadi Prinsip Perjuangan IPNU (P2IPNU)
3. Memilih Ketua Umum PP. IPNU yaitu rekan Idy Muzayyad dan Ketua Umum PP. IPPNU yaitu rekanita Wafa Patria Ummah.

Friday, May 23, 2014

Perkenalan

Hai... perkenalkan saya Crew Filamedia Shooting... sering dipanggil Crew FM,,, sekilas tentang FM, bolehkan memperkenalkan diri sebentar,,, ^_^

Filamedia Shooting berdiri pada tahun 2013 di Hotel Filadelfia, salah satu hotel di Kota Batu. Pada awalnya kami didelegasikan melalui organisasi kepemudaan di Kota Kediri untuk mengikuti pelatihan broadcasting yang diadakan oleh DISBUDPARPORA JATIM, di Hotel Filadelfia tentunya. Kami diberi wawasan oleh orang-orang yang profesional, sebut saja Babe crew's. Kenapa Babe, hmmm... karena itu panggilan untuk beliau, orang yang sudah dianggap sebagai orang tua, guru, sahabat, rekan, dan pelatih.

Singkat cerita, setelah selesainya pelatihan, kami tidak langsung bergegas pulang. Kami menyempatkan untuk berdiskusi mengenai tindaklanjut dari pelatihan ini. Akhirnya, tergagas oleh kami untuk mendirikan LSM (Lembaga Shooting Manten) dan Filamedia Shooting sebagai namanya. Nama itu diuslkan oleh salah satu crew kami, panggil saja Rika. Dan ternyata teman-teman juga menyetujuinya. Sebagai modal awal usaha ini, kami mengumpulkan uang transport yang diberikan oleh pihak penyelenggara, dan terkumpul 1,8jt. Uang tersebut kami belanjakan untuk Handycamp dan memori.

Beberapa bulan kemudian, ada tawaran untuk shooting manten. mulai dari situlah kami menekuni usaha ini.



Filamedia Shooting
melayani:
1. Shooting Manten
2. Shooting Even
3. Shooting Drama

Coming soon ===> melayani pemotretan dan cetak foto