IPNU IPPNU Kota Kediri

kumpulan para pelajar yang notaben nya adalah Aswaja ala Nahdlatul Ulama

Thursday, March 31, 2016

Tentang IPNU IPPNU



Pendahuluan

IPNU-IPPNU sebagai badan otonom Nahdlatul Ulama yang merupakan wadah kaderisasi pelajar NU sekaligus menjadi ujung tombak bagi perjuangan NU (dulu, sekarang dan pada masa akan datang). IPNU-IPPNU dituntut untuk senatiasa meningkatkan dan mengembangkan peran dan fungsinya sebagai pelaksana kebijakan dan program NU, yang berkaitan dengan kelompok masyarakat, pelajar, santri, mahasiswa sebagai basis keanggotaan IPNU-IPPNU.

Realitas perjalanan IPNU-IPPNU sejak kelahirannya sangat dipengaruhi oleh kondisi dan situasi bangsa dalam aspek kehidupan, maka untuk rekan dan rekanita sebagai kader mudanya NU dan generasi bangsa/negara dan agama harus sesadar-sadarnya akan tugas dan tanggung jawab bersama.

Latar Belakang Berdirinya IPNU-IPPNU

ü Faktor Ideologis, mayoritas penduduk Indonesia beragama islam yang berhaluan ahlussunnah wal jama’ah, maka perlu pelestarian dan pengamalan yang mutlak

ü Faktor Pedagogis, banyaknya organ organisasi yang bermunculan di daerah yang pada hakikatnya mempunyai visi, misi, program serta orientasinya yang sama dilingkungan Nahdlatul Ulama, sehingga perlu dipersatukan.

ü Faktor Sosiologis, karena adanya tujuan serta rasa kesadaran dan keihlasan akan pentingya suatu wadah pembinaan bagi generasi penerus untuk memperjuangkan cita-cita ulama dan bangsa Indonesia.

ü Faktor Politis, yaitu Nahdlatul Ulama sebagai partai politik, sehingga untuk memenangkan PEMILU pada tahun 1955 maka perlu wadah disemua tingkatan.

Upaya untuk membentuk wadah organisasi pelajar dikalangan NU jauh hari sebenarnya sudah lama ada. Tercatat dalam sejarah perjalanan IPNU-IPPNU, pada tahun 1936 di Jombang Jawa Timur telah berdiri sebuah organisasi yang menghimpun santri-santri Pondok Pesantren. Organisasi itu kemudin dikenal dengan nama Persatuan Santri Nahdlatul Oelama (PSNO). Berdirinya PSNO walaupun hanya terbatas di kalangan pelajar pondok pesantren di Jatim saja, di Surabaya telah berdiri organ pelajar Tsamrotul Mustafidin pada 11 Oktober 1936; Persatoean Santri NO ( Persano ) pada 1939; di Malang berdiri Persatoean Moerid NO ( PAMNO ) pada 1941; di Madura berdiri Ijtimauth Tholabiyyah pada 1945; di Sumbawa berdiri Ijtimauth Tholabah NO pada 1946; di Kediri berdiri Persatuan Pelajar NO ( Perpeno ) pada 1954; di Medan berdiri Ikatan Pelajar NO ( IPENO ) pada 1945; Ikatan Moerid Nahdlatul Oelama (IMNO) pada tahun 1945; Subbanul Muslimin yang berdiri di Madura, serta masih banyak lagi

Hanya saja organ – organ tersebut belum terkonsolidir secara nasional, sehingga corak dan watak gerakannya masih bersifat local. Yang menyatukan meraka adalah imajinasi kolektif yang dibentuk dari tradisi keagamaan Sunni yang sama. Pada titik inilah muncul kepeloporan gerakan yang hendak membangun jembatan pergerakan antar organ tersebut. maka 4 (empat) orang tokoh pelajar NU rekan A Mustahal Ahmad ( Solo ), Abdul Ghony Farida ( Semarang ), dan rekan M. Shufyan Cholil mahasiswa UGM ) serta A Chalid Mawardi  (Solo) , dan dalam Konferensi Besar I Lembaga Pendidikan maarif NU mereka minta untuk diberi kesempatan berbicara
dalam persidangan tersebut. dan juru bicara dari para pelajar tersebut adalah rekan Chalid Mawardi (Bp. Drs H. Mustahal Ahmad pernah mengatakan sebenarnya beliau yang akan berbicara karena secara usia beliau lebih tua dari Bp. A Khalid Mawardi, tetapi karena vokal Bp. Chalid Mawardi lebih baik maka beliau diberi kesempatan berbicara terlebih dahulu - Pen) setelah juru bicara itu secara panjang lebar menguraikan betapa pentingnya ada satu wadah dikalangan pelajar-pelajar NU yang wadah ini bertujuan antara lain:

1. Untuk melanjutkan azaz NU yakni Ahlus Sunnah Waljamaah.
2. Sebagai konsekensi terhadap Partai NU yang secara terang dan tegas menyatakan keluar dari Masyumi dan menjadi partai yang berdiri sendiri.
3. Adanya kenyataan bahwa PII (Pelajar Islam Indonesia) belum dapat menampung pelajar-pelajar umum dan pelajar pesantren.

Akhirnya setelah mendengar dari kedua tokoh pelajar tersebut, maka Konbes I LP maarif NU dengan suara bulat dalam persidangannya pada hari Rabu tanggal 24 Februari 1954 menerima dengan bulat lahirnya organisasi Pelajar NU ini (yang kemudian dikenal dengan nama IPNU) Setelah resmi berdiri, IPNU melakukan kosolidasi melalui konferensi Segi Lima yang diselenggarakan di Solo pada 30 April – 1 Mei 1954 dengan melibatkan perwakilan dari Yogyakarta, Semarang, Solo, Jombang dan Kediri. Konferensi ini berhasil merumuskan asas organisasi, yaitu Ahlussunnah Wal Jama’ah; tujuan organisasi, yakni mengembangkan risalah Islamiyah; mendorong kualitas pendidikan; dan mengkonsolidir pelajar. Konferensi ini menetapkan M. Tholchah Mansoer sebagai Ketua Umum pertama. Hasil konsolidasi ini lalu dibawah dalam muktamar NU ke – 20 di Surabaya, ( 9 – 14 September 1954 ). Dan dalam muktamar itulah IPNU disahkan oleh PBNU sebagi satu – satunya organisasi pelajar putra dalam naungan Nahdlatul Ulama.

Sekitar akhir tahun 1954, di kediaman Nyai Masyhud yang terletak di bilangan Keprabon, Surakarta, beberapa remaja putri yang kala itu sedang menuntut ilmu di Sekolah Guru Agama (SGA) Surakarta, mencoba merespon keputusan Muktamar NU ke-20 di Surabaya tentang perlunya organisasi pelajar di kalangan nahdliyyat.(8) Diskusi-diskusi ringan dilakukan oleh Umroh Machfudzoh, Atikah Murtadlo, Lathifah Hasyim, Romlah, dan Basyiroh Saimuri. Dengan panduan ketua Fatayat cabang Surakarta, Nihayah, mereka berbicara tentang absennya pelajar putri dalam tubuh organisasi NU. Lebih-lebih setelah kelahiran Muslimat NU (29 Maret 1946) yang beranggotakan wanita-wanita paruh baya, dan Fatayat NU (24 April 1950) yang anggota-anggotanya banyak didominasi oleh ibu-ibu muda.(9) Pembicaraan itu kemudian berkembang dengan argumentasi Nihayah tentang pentingnya didirikan satu wadah khusus bagi para pelajar putri NU. Apalagi keputusan muktamar ke-20 NU tahun 1954 menyatakan, bahwa IPNU adalah satu-satunya organisasi pelajar yang secara resmi bernaung di bawah NU dan hanya untuk laki-laki, sedangkan pelajar putri sebaiknya diwadahi secara terpisah. Nihayah juga berdalih bahwa banyak pelajar-pelajar putri dari kalangan NU yang dimanfaatkan oleh ormas-ormas yang kebanyakan berafiliasi kepada partai politik tertentu di luar NU.
Obrolan ringan yang biasanya dilakukan seputar waktu senggang setelah sekolah itu akhirnya berkembang menjadi sebuah gagasan kemungkinan pengiriman pelajar putri NU mendampingi pelajar-pelajar putra yang memang pada awal tahun 1955 sedang mempersiapkan muktamar I IPNU yang akan diadakan di Malang, Jawa Timur.
Gagasan ini menjadi semakin matang dengan diusulkannya pembentukan sebuah tim kecil oleh Ahmad Mustahal -ketua NU cabang Surakarta yang juga secara rajin memantau perkembangan gagasan nahdliyyat muda tersebut- untuk membuat draf resolusi pendirian IPNU-Putri. Tim yang diketuai Nihayah dan sekretaris Atikah Murtadlo ini menyusun draf resolusi di kediaman Haji Alwi di daerah Sememen, Kauman, Surakarta dan memutuskan untuk memberitahukan adanya rencana resolusi tersebut kepada PP IPNU yang berkedudukan di Yogyakarta. Tim juga menetapkan dua orang anggotanya yaitu Umroh Machfudzoh dan Lathifah Hasyim sebagai utusan untuk menemui PP IPNU di Yogyakarta. Selanjutnya utusan tersebut berangkat ke Yogyakarta dan diterima langsung oleh Ketua Umum PP IPNU, M. Tolchah Mansoer. Dalam pertemuannya, Umroh menyampaikan permintaan tim resolusi IPNU-Putri agar PP IPNU dapat menyertakan cabang-cabang yang memiliki pelajar-pelajar putri untuk menjadi peserta/wakil putri pada Kongres I IPNU di Malang. Selanjutnya disepakati pula dalam pertemuan tersebut bahwa peserta putri yang akan hadir di Malang nantinya dinamakan IPNU-Putri.
Konperensi Panca Daerah
Sesuai dengan permintaan dihadirkannya utusan IPNU-Putri sebelumnya, selain dihadiri oleh peserta putra dari cabang-cabang IPNU seluruh Indonesia, pembukaan Muktamar I IPNU di pendopo kabupaten Malang dihadiri pula oleh peserta putri yang ternyata hanya berasal dari lima cabang (berikut nama-nama utusannya) yaitu:

1. Cabang Yogyakarta: Asiah Dawami
2. Cabang Surakarta: Umroh Machfudzoh Wahib, Atikah Murtadlo
3. Cabang Malang: Mahmudah Nahrowi
4. Cabang Lumajang: Zanifah Zarkasyi
5. Cabang Kediri: Maslamah

Setelah selesai acara pembukaan, negosiasi formal dilakukan oleh para peserta putri dengan pengurus teras PP IPNU tentang kelanjutan eksistensi IPNU-Putri yang berdasarkan rencana sebelumnya secara administratif akan hanya menjadi departemen di dalam tubuh organisasi IPNU. Pembicaraan tentang kemungkinan ini berjalan cukup alot karena PP IPNU secara formal tidak pernah merasa mendirikan IPNU-Putri dan berakhir buntu pada keputusan diadakannya pertemuan intern lebih lanjut di antara utusan putri yang hadir mengenai kedudukan IPNU-Putri. Hasil akhir negosiasi dengan pengurus teras PP IPNU telah membentuk semacam kesan di antara para peserta putri bahwa organisasi IPNU kelak hanya akan lebih serius untuk menggarap anggota dari kalangan putra. Terlebih melihat keputusan-keputusan Konperensi Segi Lima IPNU di Surakarta dan hasil Muktamar ke-20 NU di Surabaya yang memang mengukuhkan eksklusivitas IPNU, hanya untuk pelajar putra. Melihat hal tersebut, pada hari ke-2 kongres, para peserta putri yang ternyata hanya dikirimkan oleh lima cabang itu sepakat untuk mengadakan pertemuan terpisah dari arena kongres IPNU.
Kelima cabang tersebut kemudian mengadakan pertemuan di kediaman K.H. Nachrowi Thohir di daerah Jagalan, Malang. Selama pembicaraan pendahuluan, di dalam forum tersebut sempat berkembang usulan agar IPNU-Putri hanya merupakan satu departemen khusus dalam organisasi IPNU. Pemikiran ini hampir merata di antara seluruh utusan putri yang hadir karena alasan-alasan sebagaimana akan dikemukakan nanti. Tetapi setelah mengadakan konsultasi dengan dua orang jajaran pengurus teras badan otonom NU yang diserahi tanggung jawab dalam pembinaan organisasi pelajar yaitu, Ketua PB Ma’arif NU, K.H. M. Syukri Ghazali, dan Ketua PP Muslimat NU, Mahmudah Mawardi, yang juga sesekali hadir dalam pertemuan itu, keinginan agar untuk selanjutnya IPNU-Putri adalah badan yang terpisah dari IPNU semakin menyala. Akhir dari pembicaraan selama beberapa hari itu berhasil menelurkan keputusan-keputusan sebagai berikut:

1. Pertemuan yang berlangsung pada 28 Februari-5 Maret 1955 dan dihadiri oleh utusan dari lima cabang IPNU-Putri itu selanjutnya disebut sebagai “Konperensi Panca Daerah”.
2. Pembentukan organisasi IPNU-Putri yang secara organisatoris dan administratif terpisah dari IPNU.
3. Tanggal 2 Maret 1955 bertepatan dengan 8 Rajab 1374 H, yaitu hari deklarasi resolusi terbentuknya IPNU-Putri ditetapkan sebagai hari lahir IPNU-Putri (kelak menjadi IPPNU).
4. Untuk menjalankan roda organisasi dan upaya pembentukan cabang-cabang selanjutnya ditetapkan susunan pengurus Dewan Harian (DH) IPPNU sebagai berikut:

Ketua : Umroh Machfudzoh Wahib
Sekretaris : Syamsiah Muthoyib

Perjalanan IPNU-IPPNU dari Kongres ke Kongres

j. Kongres IPNU XIV IPPNU XIII tanggal 18-24 Juni 2003 di Surabaya menghasilkan :

1. Perubahan kembali akronim “P” menjadi “Pelajar” sehingga sehingga IPNU singkatan dari Ikatan pelajar nahdlatul Ulama dan IPPNU singkatan dari Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama.
2. Ketua terpilih adalah rekan Mujtahidurridlo (IPNU) dan Rekanita Siti Soraya Devi (IPPNU).
3. Terbentuknya Korp Kepanduan Putri bagi IPPNU


k. Kongres IPNU XV IPPNU XIV tanggal 09-12 Juli 2006 di Jakarta menghasilkan :

1. Mempertegas MoU antara PP. IPNU-IPPNU dengan LP. Ma’arif NU tentang pendirian Pimpinan Komisariat di sekolah-sekolah secara structural.
2. Merubah nama Citra Diri IPNU menjadi Prinsip Perjuangan IPNU (P2IPNU)
3. Memilih Ketua Umum PP. IPNU yaitu rekan Idy Muzayyad dan Ketua Umum PP. IPPNU yaitu rekanita Wafa Patria Ummah.

No comments:

Post a Comment