Pendahuluan
IPNU-IPPNU sebagai badan otonom Nahdlatul
Ulama yang merupakan wadah kaderisasi pelajar NU sekaligus menjadi ujung tombak
bagi perjuangan NU (dulu, sekarang dan pada masa akan datang). IPNU-IPPNU
dituntut untuk senatiasa meningkatkan dan mengembangkan peran dan fungsinya
sebagai pelaksana kebijakan dan program NU, yang berkaitan dengan kelompok
masyarakat, pelajar, santri, mahasiswa sebagai basis keanggotaan IPNU-IPPNU.
Realitas perjalanan IPNU-IPPNU sejak
kelahirannya sangat dipengaruhi oleh kondisi dan situasi bangsa dalam aspek
kehidupan, maka untuk rekan dan rekanita sebagai kader mudanya NU dan generasi
bangsa/negara dan agama harus sesadar-sadarnya akan tugas dan tanggung jawab
bersama.
Latar Belakang Berdirinya IPNU-IPPNU
ü Faktor Ideologis, mayoritas penduduk
Indonesia beragama islam yang berhaluan ahlussunnah wal jama’ah, maka perlu
pelestarian dan pengamalan yang mutlak
ü Faktor Pedagogis, banyaknya organ
organisasi yang bermunculan di daerah yang pada hakikatnya mempunyai visi,
misi, program serta orientasinya yang sama dilingkungan Nahdlatul Ulama,
sehingga perlu dipersatukan.
ü Faktor Sosiologis, karena adanya tujuan
serta rasa kesadaran dan keihlasan akan pentingya suatu wadah pembinaan bagi
generasi penerus untuk memperjuangkan cita-cita ulama dan bangsa Indonesia.
ü Faktor Politis, yaitu Nahdlatul Ulama
sebagai partai politik, sehingga untuk memenangkan PEMILU pada tahun 1955 maka
perlu wadah disemua tingkatan.
Upaya untuk membentuk wadah organisasi
pelajar dikalangan NU jauh hari sebenarnya sudah lama ada. Tercatat dalam
sejarah perjalanan IPNU-IPPNU, pada tahun 1936 di Jombang Jawa Timur telah
berdiri sebuah organisasi yang menghimpun santri-santri Pondok Pesantren.
Organisasi itu kemudin dikenal dengan nama Persatuan Santri Nahdlatul Oelama
(PSNO). Berdirinya PSNO walaupun hanya terbatas di kalangan pelajar pondok
pesantren di Jatim saja, di Surabaya telah berdiri organ pelajar Tsamrotul
Mustafidin pada 11 Oktober 1936; Persatoean Santri NO ( Persano ) pada 1939; di
Malang berdiri Persatoean Moerid NO ( PAMNO ) pada 1941; di Madura berdiri
Ijtimauth Tholabiyyah pada 1945; di Sumbawa berdiri Ijtimauth Tholabah NO pada
1946; di Kediri berdiri Persatuan Pelajar NO ( Perpeno ) pada 1954; di Medan
berdiri Ikatan Pelajar NO ( IPENO ) pada 1945; Ikatan Moerid Nahdlatul Oelama
(IMNO) pada tahun 1945; Subbanul Muslimin yang berdiri di Madura, serta masih
banyak lagi
Hanya saja organ – organ tersebut belum
terkonsolidir secara nasional, sehingga corak dan watak gerakannya masih
bersifat local. Yang menyatukan meraka adalah imajinasi kolektif yang dibentuk
dari tradisi keagamaan Sunni yang sama. Pada titik inilah muncul kepeloporan
gerakan yang hendak membangun jembatan pergerakan antar organ tersebut. maka 4
(empat) orang tokoh pelajar NU rekan A Mustahal Ahmad ( Solo ), Abdul Ghony
Farida ( Semarang ), dan rekan M. Shufyan Cholil mahasiswa UGM ) serta A Chalid
Mawardi (Solo) , dan dalam Konferensi
Besar I Lembaga Pendidikan maarif NU mereka minta untuk diberi kesempatan
berbicara
dalam persidangan tersebut. dan juru
bicara dari para pelajar tersebut adalah rekan Chalid Mawardi (Bp. Drs H.
Mustahal Ahmad pernah mengatakan sebenarnya beliau yang akan berbicara karena
secara usia beliau lebih tua dari Bp. A Khalid Mawardi, tetapi karena vokal Bp.
Chalid Mawardi lebih baik maka beliau diberi kesempatan berbicara terlebih
dahulu - Pen) setelah juru bicara itu secara panjang lebar menguraikan betapa
pentingnya ada satu wadah dikalangan pelajar-pelajar NU yang wadah ini
bertujuan antara lain:
1. Untuk melanjutkan azaz NU yakni Ahlus
Sunnah Waljamaah.
2. Sebagai konsekensi terhadap Partai NU
yang secara terang dan tegas menyatakan keluar dari Masyumi dan menjadi partai
yang berdiri sendiri.
3. Adanya kenyataan bahwa PII (Pelajar
Islam Indonesia) belum dapat menampung pelajar-pelajar umum dan pelajar
pesantren.
Akhirnya setelah mendengar dari kedua
tokoh pelajar tersebut, maka Konbes I LP maarif NU dengan suara bulat dalam
persidangannya pada hari Rabu tanggal 24 Februari 1954 menerima dengan bulat
lahirnya organisasi Pelajar NU ini (yang kemudian dikenal dengan nama IPNU)
Setelah resmi berdiri, IPNU melakukan kosolidasi melalui konferensi Segi Lima
yang diselenggarakan di Solo pada 30 April – 1 Mei 1954 dengan melibatkan
perwakilan dari Yogyakarta, Semarang, Solo, Jombang dan Kediri. Konferensi ini
berhasil merumuskan asas organisasi, yaitu Ahlussunnah Wal Jama’ah; tujuan
organisasi, yakni mengembangkan risalah Islamiyah; mendorong kualitas
pendidikan; dan mengkonsolidir pelajar. Konferensi ini menetapkan M. Tholchah
Mansoer sebagai Ketua Umum pertama. Hasil konsolidasi ini lalu dibawah dalam
muktamar NU ke – 20 di Surabaya, ( 9 – 14 September 1954 ). Dan dalam muktamar
itulah IPNU disahkan oleh PBNU sebagi satu – satunya organisasi pelajar putra
dalam naungan Nahdlatul Ulama.
Sekitar akhir tahun 1954, di kediaman
Nyai Masyhud yang terletak di bilangan Keprabon, Surakarta, beberapa remaja
putri yang kala itu sedang menuntut ilmu di Sekolah Guru Agama (SGA) Surakarta,
mencoba merespon keputusan Muktamar NU ke-20 di Surabaya tentang perlunya
organisasi pelajar di kalangan nahdliyyat.(8) Diskusi-diskusi ringan dilakukan
oleh Umroh Machfudzoh, Atikah Murtadlo, Lathifah Hasyim, Romlah, dan Basyiroh
Saimuri. Dengan panduan ketua Fatayat cabang Surakarta, Nihayah, mereka
berbicara tentang absennya pelajar putri dalam tubuh organisasi NU. Lebih-lebih
setelah kelahiran Muslimat NU (29 Maret 1946) yang beranggotakan wanita-wanita
paruh baya, dan Fatayat NU (24 April 1950) yang anggota-anggotanya banyak
didominasi oleh ibu-ibu muda.(9) Pembicaraan itu kemudian berkembang dengan
argumentasi Nihayah tentang pentingnya didirikan satu wadah khusus bagi para
pelajar putri NU. Apalagi keputusan muktamar ke-20 NU tahun 1954 menyatakan,
bahwa IPNU adalah satu-satunya organisasi pelajar yang secara resmi bernaung di
bawah NU dan hanya untuk laki-laki, sedangkan pelajar putri sebaiknya diwadahi
secara terpisah. Nihayah juga berdalih bahwa banyak pelajar-pelajar putri dari
kalangan NU yang dimanfaatkan oleh ormas-ormas yang kebanyakan berafiliasi
kepada partai politik tertentu di luar NU.
Obrolan ringan yang biasanya dilakukan
seputar waktu senggang setelah sekolah itu akhirnya berkembang menjadi sebuah
gagasan kemungkinan pengiriman pelajar putri NU mendampingi pelajar-pelajar
putra yang memang pada awal tahun 1955 sedang mempersiapkan muktamar I IPNU
yang akan diadakan di Malang, Jawa Timur.
Gagasan ini menjadi semakin matang dengan
diusulkannya pembentukan sebuah tim kecil oleh Ahmad Mustahal -ketua NU cabang
Surakarta yang juga secara rajin memantau perkembangan gagasan nahdliyyat muda
tersebut- untuk membuat draf resolusi pendirian IPNU-Putri. Tim yang diketuai
Nihayah dan sekretaris Atikah Murtadlo ini menyusun draf resolusi di kediaman
Haji Alwi di daerah Sememen, Kauman, Surakarta dan memutuskan untuk
memberitahukan adanya rencana resolusi tersebut kepada PP IPNU yang
berkedudukan di Yogyakarta. Tim juga menetapkan dua orang anggotanya yaitu
Umroh Machfudzoh dan Lathifah Hasyim sebagai utusan untuk menemui PP IPNU di
Yogyakarta. Selanjutnya utusan tersebut berangkat ke Yogyakarta dan diterima
langsung oleh Ketua Umum PP IPNU, M. Tolchah Mansoer. Dalam pertemuannya, Umroh
menyampaikan permintaan tim resolusi IPNU-Putri agar PP IPNU dapat menyertakan
cabang-cabang yang memiliki pelajar-pelajar putri untuk menjadi peserta/wakil
putri pada Kongres I IPNU di Malang. Selanjutnya disepakati pula dalam
pertemuan tersebut bahwa peserta putri yang akan hadir di Malang nantinya
dinamakan IPNU-Putri.
Konperensi Panca Daerah
Sesuai dengan permintaan dihadirkannya
utusan IPNU-Putri sebelumnya, selain dihadiri oleh peserta putra dari
cabang-cabang IPNU seluruh Indonesia, pembukaan Muktamar I IPNU di pendopo
kabupaten Malang dihadiri pula oleh peserta putri yang ternyata hanya berasal
dari lima cabang (berikut nama-nama utusannya) yaitu:
1. Cabang Yogyakarta: Asiah Dawami
2. Cabang Surakarta: Umroh Machfudzoh
Wahib, Atikah Murtadlo
3. Cabang Malang: Mahmudah Nahrowi
4. Cabang Lumajang: Zanifah Zarkasyi
5. Cabang Kediri: Maslamah
Setelah selesai acara pembukaan,
negosiasi formal dilakukan oleh para peserta putri dengan pengurus teras PP
IPNU tentang kelanjutan eksistensi IPNU-Putri yang berdasarkan rencana
sebelumnya secara administratif akan hanya menjadi departemen di dalam tubuh
organisasi IPNU. Pembicaraan tentang kemungkinan ini berjalan cukup alot karena
PP IPNU secara formal tidak pernah merasa mendirikan IPNU-Putri dan berakhir
buntu pada keputusan diadakannya pertemuan intern lebih lanjut di antara utusan
putri yang hadir mengenai kedudukan IPNU-Putri. Hasil akhir negosiasi dengan
pengurus teras PP IPNU telah membentuk semacam kesan di antara para peserta
putri bahwa organisasi IPNU kelak hanya akan lebih serius untuk menggarap
anggota dari kalangan putra. Terlebih melihat keputusan-keputusan Konperensi
Segi Lima IPNU di Surakarta dan hasil Muktamar ke-20 NU di Surabaya yang memang
mengukuhkan eksklusivitas IPNU, hanya untuk pelajar putra. Melihat hal
tersebut, pada hari ke-2 kongres, para peserta putri yang ternyata hanya
dikirimkan oleh lima cabang itu sepakat untuk mengadakan pertemuan terpisah dari
arena kongres IPNU.
Kelima cabang tersebut kemudian
mengadakan pertemuan di kediaman K.H. Nachrowi Thohir di daerah Jagalan,
Malang. Selama pembicaraan pendahuluan, di dalam forum tersebut sempat
berkembang usulan agar IPNU-Putri hanya merupakan satu departemen khusus dalam
organisasi IPNU. Pemikiran ini hampir merata di antara seluruh utusan putri
yang hadir karena alasan-alasan sebagaimana akan dikemukakan nanti. Tetapi
setelah mengadakan konsultasi dengan dua orang jajaran pengurus teras badan
otonom NU yang diserahi tanggung jawab dalam pembinaan organisasi pelajar
yaitu, Ketua PB Ma’arif NU, K.H. M. Syukri Ghazali, dan Ketua PP Muslimat NU,
Mahmudah Mawardi, yang juga sesekali hadir dalam pertemuan itu, keinginan agar
untuk selanjutnya IPNU-Putri adalah badan yang terpisah dari IPNU semakin
menyala. Akhir dari pembicaraan selama beberapa hari itu berhasil menelurkan
keputusan-keputusan sebagai berikut:
1. Pertemuan yang berlangsung pada 28
Februari-5 Maret 1955 dan dihadiri oleh utusan dari lima cabang IPNU-Putri itu
selanjutnya disebut sebagai “Konperensi Panca Daerah”.
2. Pembentukan organisasi IPNU-Putri yang
secara organisatoris dan administratif terpisah dari IPNU.
3. Tanggal 2 Maret 1955 bertepatan dengan
8 Rajab 1374 H, yaitu hari deklarasi resolusi terbentuknya IPNU-Putri
ditetapkan sebagai hari lahir IPNU-Putri (kelak menjadi IPPNU).
4. Untuk menjalankan roda organisasi dan
upaya pembentukan cabang-cabang selanjutnya ditetapkan susunan pengurus Dewan
Harian (DH) IPPNU sebagai berikut:
Ketua : Umroh Machfudzoh Wahib
Sekretaris : Syamsiah Muthoyib
Perjalanan IPNU-IPPNU dari Kongres ke
Kongres
j. Kongres IPNU XIV IPPNU XIII tanggal
18-24 Juni 2003 di Surabaya menghasilkan :
1. Perubahan kembali akronim “P” menjadi
“Pelajar” sehingga sehingga IPNU singkatan dari Ikatan pelajar nahdlatul Ulama
dan IPPNU singkatan dari Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama.
2. Ketua terpilih adalah rekan
Mujtahidurridlo (IPNU) dan Rekanita Siti Soraya Devi (IPPNU).
3. Terbentuknya Korp Kepanduan Putri bagi IPPNU
k. Kongres IPNU XV IPPNU XIV tanggal
09-12 Juli 2006 di Jakarta menghasilkan :
1. Mempertegas MoU antara PP. IPNU-IPPNU
dengan LP. Ma’arif NU tentang pendirian Pimpinan Komisariat di sekolah-sekolah
secara structural.
2. Merubah nama Citra Diri IPNU menjadi Prinsip
Perjuangan IPNU (P2IPNU)
3. Memilih Ketua Umum PP. IPNU yaitu
rekan Idy Muzayyad dan Ketua Umum PP. IPPNU yaitu rekanita Wafa Patria Ummah.
No comments:
Post a Comment